Manusia adalah makhluk paling kompleks...
Dikaruniai kesempurnaan fisik,akal fikiran, perasaan untuk menunjang segala keinginan, mimpi sekaligus melewati segala aral rintang dalam menjalani kehidupan. Namun seringkali segalanya tidak berjalan seirama.
Jiwa adalah hal yang tidak nampak, namun crucial.
Ketika jiwa terkoyak, nyaris manusia hidup seperti robot yang hanya bergerak secara fisik namun tanpa disertai fikiran dan perasaan.
Wanita adalah makhluk yang selalu melakukan segala hal dengan dasar perasaan, dan Pria adalah makhluk yang melakukan segala hal dengan dasar fikiran dan logika.
Itu sebabnya ketika dua makhluk tersebut disatukan terciptalah suatu puzzle yang saling melengkapi satu sama lain dan menyeimbangkan keduanya.
Namun disisi lain, wanita kerap kali dibutakan oleh perasaan, sekalipun akal logika mereka sudah mengingatkan mereka untuk sadar bahwa hal tersebut sudah diluar batas yang wajar.
Dan pria sebagai makhluk yang secara fisik lebih kuat dibanding wanita, seringkali memanfaatkan kelemahan itu untuk kepentingan mereka.
Semasa remaja, tercipta suatu image bahwa, seorang pria akan bertindak sebagai pelindung terhadap wanita.
Mungkin akibat terlalu banyak menonton kartun2 dan membaca romantisme yang sederhana di novel.
Namun seiring perjalanan hidup banyak hal yang membuat saya untuk merevisi image yang dulu pernah tercipta di benak saya.
Pria yang baik memang akan selalu melindungi dan menjaga wanita yang dikasihi-nya. Namun tidak selamanya kita akan bertemu pria yang baik.
Kehidupan membuka mata kita, di antara kita, ada yang harus merasakan hal yang diluar keyakinan dan konsep yang semestinya tentang hubungan pria dan wanita.
Pria tidak lagi menjaga dan melindungi, namun justru menyakiti... baik secara fisik ataupun secara psikologis.
Sungguh sakit membayangkan hal ini terjadi pada kita, apalagi apabila kita kita ternyata harus mengalami itu.
Kemarahan kerap kali melanda ketika saya mendengar tentang kekerasan terhadap wanita.
Pintu maaf di hati wanita kadang terlalu lebar untuk orang yang mereka kasihi, sekalipun kesalahannya sudah diluar batas.
Apakah wanita sudah dianggap sebagai hiasan dan objek? apakah jiwa2 wanita ini sudah tidak lagi berharga?
Apakah luka hati yang dirasakan oleh wanita2 tersebut hanya lelucon bagi pria2 itu?
Airmata saya sering menetes, ketika melihat seorang wanita menahan semua kekosongan jiwa yang diakibatkan kekerasan oleh sosok yang seharusnya menjaga mereka dengan kasih sayang dan kelembutan.
Saya hanya ingin bertanya, bisakah para pria2 itu belajar untuk melihat dari kaca mata orang lain sedikit saja, dan membayangkan menempatkan diri di posisi kami sebagai wanita.
Betapa kami hanya ingin dihargai dan diperlakukan dengan lembut...
Betapa luka jiwa pelan2 akan bisa membunuh karakter kami yang sesungguhnya..
Please guys, be nice to us....
-dheanee-
No comments:
Post a Comment